Makna Lagu Multo – Cup of Joe. Lagu “Multo” dari Cup of Joe menjadi salah satu karya yang paling banyak dibicarakan di kalangan pendengar musik OPM sejak dirilis beberapa waktu lalu. Dengan melodi yang lembut namun menghanyutkan serta lirik yang penuh makna, lagu ini berhasil menyentuh banyak hati, terutama mereka yang pernah merasakan kehilangan atau hubungan yang berakhir tanpa penutup jelas. Di balik irama pop alternatif yang mudah didengar, “Multo” menyimpan cerita mendalam tentang rasa sakit yang tersisa, kenangan yang terus menghantui, dan proses melepaskan seseorang yang sudah tidak ada lagi dalam hidup. Lagu ini bukan sekadar tentang patah hati biasa, melainkan tentang bagaimana seseorang menjadi “hantu” dalam ingatan orang yang ditinggalkan. Artikel ini akan mengupas makna lirik “Multo” secara lebih dalam, melihat bagaimana lagu ini mencerminkan pengalaman emosional banyak orang. INFO PROPERTI
Lirik yang Menggambarkan Kehadiran yang Tak Terlihat: Makna Lagu Multo – Cup of Joe
Judul “Multo” langsung memberi petunjuk kuat: kata ini dalam bahasa Tagalog berarti hantu atau roh. Dalam konteks lagu, “multo” bukan hantu sungguhan, melainkan sosok mantan yang masih “hidup” di pikiran dan perasaan penyanyi. Lirik pembuka sudah langsung menarik pendengar masuk ke dalam suasana: gambaran seseorang yang merasa ditemani bayangan orang yang sudah pergi. Frasa seperti “multo ka na ba sa’kin” atau “hindi na kita makita pero naririto ka pa rin” mencerminkan paradoks yang sering dialami setelah putus—fisik orang itu hilang, tapi kehadirannya masih terasa kuat di setiap sudut ingatan.
Lagu ini menggambarkan tahap di mana seseorang belum sepenuhnya bisa move on. Setiap tempat, lagu, atau bau tertentu memicu kenangan, membuat mantan terasa seperti hantu yang muncul dan menghilang sesuka hati. Ada rasa marah, sedih, dan pasrah bercampur jadi satu. Penyanyi seolah bertanya pada dirinya sendiri: kenapa orang ini masih bisa “menghantui” meski sudah tidak ada hubungan lagi? Makna ini sangat relatable bagi banyak pendengar yang pernah merasa ditinggalkan tanpa penjelasan memadai atau tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal yang layak.
Simbolisme “Hantu” sebagai Proses Penyembuhan: Makna Lagu Multo – Cup of Joe
Lebih dalam lagi, “Multo” bukan hanya tentang patah hati, tapi juga tentang proses penyembuhan yang lambat. Hantu dalam lagu ini bukan musuh yang menakutkan, melainkan bagian dari perjalanan emosional yang harus dihadapi. Ada baris yang mengisyaratkan penerimaan: meski sosok itu masih muncul dalam ingatan, penyanyi mulai belajar hidup berdampingan dengan kenangan tersebut. Ini mencerminkan tahap grief yang sebenarnya—denial, anger, bargaining, depression, dan akhirnya acceptance—meski dalam konteks romantis.
Penggunaan kata “multo” juga membawa nuansa budaya Filipina yang kental dengan cerita hantu dan roh yang belum tenang. Dalam banyak cerita rakyat, hantu adalah jiwa yang belum bisa pergi karena ada urusan yang belum selesai. Begitu pula dalam lagu ini: hubungan yang berakhir tanpa closure membuat salah satu pihak terus “terikat” pada masa lalu. Makna ini memberi dimensi lebih luas—lagu tidak hanya curhat, tapi juga mengajak pendengar merefleksikan apakah mereka sendiri masih membiarkan “hantu” masa lalu menghantui hari-hari mereka.
Dampak Emosional dan Resonansi dengan Pendengar
Apa yang membuat “Multo” begitu kuat adalah kemampuannya menyuarakan perasaan yang sulit diungkapkan. Banyak pendengar merasa lagu ini seperti diary pribadi mereka: rasa sakit yang diam-diam, pertanyaan yang tak terjawab, dan keinginan untuk lepas dari bayang-bayang. Melodi yang mellow dengan sentuhan gitar akustik dan vokal yang penuh emosi memperkuat kesan intim, seolah penyanyi sedang berbicara langsung kepada pendengar.
Lagu ini juga jadi pengingat bahwa move on bukan proses instan. Ia butuh waktu, dan kadang “hantu” itu harus diakui keberadaannya sebelum benar-benar bisa dilepaskan. Resonansi emosional ini membuat “Multo” sering muncul di playlist orang-orang yang sedang dalam fase transisi hubungan—baik yang baru putus, yang masih berusaha lupa, maupun yang sedang belajar menerima kenyataan.
Kesimpulan
“Multo” dari Cup of Joe bukan sekadar lagu patah hati biasa. Ia adalah potret jujur tentang bagaimana kenangan bisa menjadi hantu yang menghantui, tentang rasa sakit yang tersisa setelah seseorang pergi, dan tentang perjuangan untuk akhirnya melepaskan. Lirik yang puitis, melodi yang menyentuh, dan makna yang dalam membuat lagu ini berhasil menyapa banyak hati yang sedang dalam proses yang sama. Di balik kesedihannya, ada pesan harapan: bahwa meski masa lalu masih muncul sesekali, kita punya kekuatan untuk terus melangkah dan membiarkan “hantu” itu perlahan memudar.
Lagu ini mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri tentang perasaan yang masih tersisa, sekaligus memberi izin untuk merasakan semuanya tanpa buru-buru. Bagi siapa pun yang pernah merasa ditemani bayangan seseorang yang sudah tidak ada, “Multo” hadir sebagai teman yang mengerti—dan itu mungkin kekuatan terbesarnya.